Palangka Raya, 17 Agustus 2025 – Langit mendung menaungi halaman SMA Negeri 3 Palangka Raya pada pagi yang penuh khidmat itu. Ratusan siswa, guru, dan tenaga kependidikan berdiri tegap, sementara Sang Saka Merah Putih siap dikibarkan. Meski matahari enggan menampakkan diri, semangat kemerdekaan justru berkobar terang di dada setiap peserta upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Minggu (17/8).
Derap Langkah yang Pasti
Upacara dimulai pukul 07.00 WIB, dipimpin oleh Nico Yosia (XII-5) sebagai pemimpin upacara. Dengan suara lantang, ia mengatur barisan yang dipimpin oleh para komandan kelas: Josua Gabriel Imannuel (XII-4) untuk kelas XII, Salkhan Adhif Sriyanto (XII-2) untuk kelas XI, dan Adriano Ezra Purnomo (XII-4) untuk kelas X.
Di sisi lain, Alfandi Caritas Yawa (XII-3) bertugas sebagai ajudan pembina upacara, sementara Clarisa Ivana Firly (XII-4) tampil percaya diri sebagai pembawa acara. Raissa Salwa Salsabila (XII-1) membacakan naskah Undang-Undang Dasar 1945 dengan penuh penghayatan, dan Adelina Mayasari (XII-2) memimpin doa yang menutup keheningan sejenak seluruh lapangan.
Momen paling menegangkan hadir ketika Audra Elsarindy (XII-5) melangkah mantap membawa baki bendera, sementara Christian Meision Lumbantobing (XII-5) mengumandangkan teks Pancasila. Barisan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) yang terdiri dari 36 siswa kelas XI, mulai dari Kesya Adelia (XI-10) hingga Harichandra Trita Bajang (XI-1), menjalankan tugas sakral pengibaran bendera dengan langkah serempak yang menggema di lapangan sekolah. Drum band sekolah menambah khidmat suasana, sementara tim dokumentasi Nayanika Amerta mengabadikan momen bersejarah ini.
Amanat Penuh Makna dari Kepala Sekolah
Sebagai pembina upacara, Yenihayati, S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Negeri 3 Palangka Raya, menyampaikan amanat yang menyentuh hati. Dengan suara tenang namun tegas, ia mengingatkan kembali makna perjuangan para pahlawan bangsa.
“Hari ini kita berdiri tegak di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih, memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Delapan dekade sudah bangsa kita merdeka, sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi pengorbanan para pahlawan. Tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangan itu, bukan lagi dengan senjata, melainkan dengan ilmu, karya, dan karakter mulia,” ucapnya lantang.
Mengusung tema “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, Yenihayati menekankan bahwa pendidikan adalah kunci agar bangsa tetap kokoh. “Pendidikan adalah kunci agar bangsa kita bisa bersatu dalam keberagaman, berdaulat dalam pemikiran, sejahtera dengan ilmu, dan maju dalam karya nyata,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan siswa untuk tidak gentar menghadapi derasnya arus digitalisasi dan persaingan global. “Janganlah kita takut. Justru di sinilah peluang bagi kalian untuk membuktikan diri. Jika kalian rajin belajar, berpikir kritis, jujur, kreatif, dan berakhlak mulia, maka kalian bukan hanya akan sukses untuk diri sendiri, tetapi juga akan membawa Indonesia berdiri tegak di mata dunia,” tegasnya.
Kepada guru dan tenaga pendidik, ia menyampaikan penghargaan mendalam, “Guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, keteladanan, dan semangat kebangsaan. Dari ruang-ruang kelas inilah lahir generasi penerus bangsa yang akan membawa Indonesia menuju cita-cita besar: Indonesia Emas 2045.”
Generasi Muda dan Tantangan Zaman
Para siswa yang mengikuti upacara mengaku terinspirasi. “Rasanya merinding ketika bendera dikibarkan. Amanat Ibu Kepala Sekolah juga bikin saya semakin semangat untuk belajar dan berprestasi,” ungkap Kesya Adelia (XI-10), salah satu anggota Paskibraka.
Senada dengan itu, Clarisa Ivana Firly (XII-4), yang bertugas sebagai pembawa acara, mengatakan bahwa momen ini memberinya pengalaman berharga. “Ini bukan sekadar tugas, tapi juga bentuk rasa cinta saya kepada Indonesia,” ujarnya dengan senyum bangga.
Menyatu dalam Semangat Kemerdekaan
Meski cuaca mendung menggelayut, suasana upacara justru terasa semakin syahdu. Barisan siswa berdiri dengan tenang, sementara bendera merah putih berkibar gagah, menjadi simbol harapan bangsa yang tidak pernah padam.
“Mari kita jadikan momentum 80 tahun Indonesia merdeka ini sebagai titik balik untuk bersatu dalam persahabatan dan gotong royong di sekolah, berdaulat dalam berpikir mandiri dan kritis, menyejahterakan diri dengan ilmu yang bermanfaat, dan membawa Indonesia maju dengan karya yang nyata,” tutup Yenihayati.
Upacara pun ditutup dengan doa dan penghormatan terakhir kepada bendera. Hari itu, meski langit mendung, jiwa setiap peserta upacara terang benderang oleh semangat perjuangan. SMA Negeri 3 Palangka Raya kembali membuktikan bahwa kemerdekaan bukan hanya perayaan, melainkan panggilan untuk terus melangkah maju.


