Palangka Raya, 1 September 2025 – Suasana mendung menyelimuti halaman SMAN 3 Palangka Raya. Meski langit tak secerah biasanya, semangat para peserta upacara tetap berkobar. Lapangan sekolah dipadati barisan rapi guru, tenaga kependidikan, serta ratusan siswa yang berdiri tegak mengikuti jalannya upacara bendera rutin.
Upacara kali ini dipimpin oleh petugas dari kelas XII-6. Dengan penuh tanggung jawab, mereka melaksanakan tugas mulai dari pembacaan teks UUD 1945, doa, hingga prosesi penghormatan. Bendera Merah Putih berkibar megah di tiang utama, dinaikkan oleh tim ekstrakurikuler Paskibra yang tampil dengan gerakan tegap, penuh wibawa, dan disiplin tinggi.
Tidak hanya itu, berbagai organisasi sekolah turut terlibat dalam menyukseskan kegiatan. PMR, PKS, dan Pramuka menjadi pendukung penting dalam menjaga keteraturan. Sementara itu, dokumentasi kegiatan dipercayakan kepada tim Nayanika Amerta dengan anggota Niko Nugroho (XI-9), Neyla Rameyza E. (XI-13), Petra Anugerahnu (XII-1), dan Demas Edbert Bahy (X-6). Mereka mengabadikan setiap momen penting sebagai catatan sejarah kecil perjalanan sekolah.
Amanat Pembina Upacara
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala SMAN 3 Palangka Raya, Yenihayati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan amanat yang menekankan pentingnya disiplin dan tanggung jawab siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
“Kedisiplinan adalah kunci keberhasilan. Datang tepat waktu, mengenakan seragam sesuai aturan, dan menaati tata tertib bukan sekadar kewajiban, tetapi juga latihan membentuk karakter. Saya berharap seluruh peserta didik SMAN 3 Palangka Raya menjadikan kedisiplinan sebagai kebiasaan, bukan paksaan,” tegas Yenihayati dengan suara lantang yang disambut penuh perhatian oleh para siswa.
Selain itu, beliau juga menyinggung fenomena sosial yang marak di kalangan pelajar, yakni keterlibatan siswa dalam demonstrasi. Dengan nada tegas namun penuh kasih, Yenihayati mengingatkan agar siswa lebih bijak dalam menyikapi isu-isu yang beredar di luar sekolah.
“Jangan sampai ada siswa kita yang ikut-ikutan dalam aksi demonstrasi yang tidak jelas arahnya. Masa depan kalian lebih berharga untuk diisi dengan belajar dan berkarya. Jika ingin menyampaikan aspirasi, lakukan dengan cara yang benar, elegan, dan sesuai jalur,” ucapnya.
Suasana Kekeluargaan dan Kebanggaan
Meski amanat yang disampaikan sarat pesan disiplin dan ketegasan, suasana tetap hangat. Para siswa mendengarkan dengan khidmat, sementara guru-guru memberi teladan dengan berdiri rapi di barisan. Bagi banyak peserta, upacara ini tidak hanya sebatas rutinitas, tetapi juga momen untuk merenungkan kembali arti menjadi bagian dari sebuah komunitas pendidikan yang menjunjung tinggi nilai nasionalisme.
Seorang siswa kelas XI mengungkapkan kesannya, “Kalau ikut upacara, rasanya memang melelahkan, tapi di sisi lain saya jadi merasa lebih tertib. Apalagi waktu Bu Kepala Sekolah bicara soal disiplin, itu benar-benar mengingatkan saya untuk tidak menyepelekan aturan kecil sekalipun.”
Hal serupa disampaikan salah satu guru, yang menilai amanat pembina kali ini sangat relevan. “Anak-anak sekarang hidup di era digital yang penuh distraksi. Pesan tentang disiplin dan bijak mengambil keputusan itu penting sekali. Semoga mereka bisa menerapkannya,” ujarnya.
Upacara Sebagai Cermin Karakter
Upacara bendera di SMAN 3 Palangka Raya bukan hanya formalitas untuk menghormati Sang Merah Putih. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi siswa untuk menumbuhkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan nasionalisme.
Seiring berakhirnya upacara, bendera merah putih berkibar anggun di langit mendung. Suasana hening sesaat setelah doa penutup seolah menjadi simbol keheningan batin seluruh peserta, yang menyadari bahwa kemerdekaan dan keteraturan tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari kedisiplinan dan kepatuhan pada nilai luhur.

